Mengenal Pecalang: Penjaga Tradisi dan Keamanan di Bali
, Jakarta - Media sosial sedang heboh dengan pembicaraan seputar penolakan terhadap kedatangan sebuah organisasi kemasyarakatan (ormas) yang ingin masuk dan tumbuh di Bali. Dalam suatu video yang viral, dapat dilihat Wakil Gubernur Bali, I Nyoman Giri Prasta, menyampaikan pandangannya bahwa penduduk Bali tak perlu ada ormas asing dari luar pulau tersebut karena alasan Bali telah dilengkapi dengan pengawas keselamatan sendiri. pecalang .
Manggala Madya Pasikian Pacalang MDA Bali, Kabupaten Klungkung, Yudhi Pasek Kusuma, turut menyampaikan pandangan yang sama. Lelaki ini kerap mempublikasikan materi pendidikan tentang petugas pacalang melalui platform digital. Di dalam klip yang banyak dibagikan ke seluruh penjuru jejaring sosial, dia menegaskan bahwa warga Bali tak perlu organisasi otonom dari luar daerah yang membawa sejumlah tujuan politik dan bisa mencemarkan sistem tradisional mereka. Bali .
Alasannya didasarkan pada ketakutan bahwa ormas Ormas dari luar pulau merasa kesulitan memahami cara kerja adat dan istiadat dalam kehidupan sehari-hari masyarakat setempat. Menurutnya, peran Pecalang sudah cukup sebagai warisan budaya yang terus dilestarikan untuk melindungi Bali. Karena alasan tersebut, organisasi mandataris dari luar Pulau Bali dirasakan tidak dibutuhkan lagi.
Sejarah Pecalang
Menyebutkan dari artikel yang disusun oleh Gede Indra Pramana , pecalang atau langlang Merupakan unit tugas pengamanan tradisional masyarakat Bali. Kehadirannya diatur dalam Peraturan Daerah nomor 3 tahun 2001 tentang Desa Pekraman.
Pecalang mula-mula tampil sebagai pengawas keamanan di akhir tahun 1970-an saat Festival Seni Bali, suatu even budaya tahunan, tengah dilangsungkan. Karakteristik utamanya adalah mengenakan busana tradisional. Popularitas pecalang meningkat pesat sejak berhasil memastikan kelancaran konferensi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan yang digelar di Bali usai jatuhnya rezim Orde Baru.
Namun, sesuai dengan pendapat I Nyoman Punia, Bendesa Adat Tandeg, seperti terdokumentasi dalam skripsinya, I Made Wisnubawa Adiwijana , peran Pecalang di Bali bervariasi dari satu desa adat ke desa lainnya. Terdapat juga pandangan yang mengatakan bahwa pecalang sudah eksis sejak masa kerajaan.
Peran Pecalang
Bagi Yudha Pasek Kusuma Dalam unggahan videonya di akun TikTok, petugas pecalang senantiasa digambarkan sebagai garis depan dalam menjamin keamanan di Bali. Salah satu klip tersebut memperlihatkan penjelasannya mengenai kewajiban serta fungsi pecalang berdasarkan sumber Lontar Purwadigama Sasana, seperti ngulati kasukretan desa (menyelidiki kesulitan desa), panrepti ikang desa (memperbaiki desa), j agabaya ikang desa (petugas pengamannya desa), serta j agra pasubayan (waspada terhadap bahaya).
Di luar memelihara keamanan secara fisik, petugas pecalang juga menetapkan tindakan pencegahan dan pra-langkah, termasuk melaksanakan pengintaian berkala, mengontrol masuk-keluarnya warga asing, mendidik masyarakat supaya tidak melanggar aturan lewat cara meyakinkan, serta berkolaborasi dengan para pemuka adat dan stakeholder lain dalam memberikan penyuluhan dan sosialisasi.
Singkatnya, pecalang bertindak sebagai pengawas keamanan yang menjaga norma-norma tradisional guna menghindari perselisihan agar menciptakan lingkungan hidup yang damai di Bali. Mereka bekerja dengan didorong oleh kewajiban mereka terhadap budaya dan tempat asli kelahiran mereka.
Sampai sekarang, Pecalang telah tersebar di 1.500 desa tradisional. Grup pengawas ini tidak hanya bertugas untuk memelihara ketertiban dalam lingkungan mereka sendiri, tetapi juga siap membantu desa lain jika dibutuhkan.
Kriteria Pecalang
Menurut Lontar Purwadigama Sasana, jika seseorang ingin bergabung dengan kelompok pecalang, beberapa karakteristik penting yang harus terdapat pada diri mereka adalah sebagai berikut:
- Nawang Kangin Kauh , perlu memahami arah angin serta rute-rute tersembunyi di daerah tugasnya
- Wanen Lan Wirang , menunjukkan semangat berani yang kuat dan tanpa ada keragu-raguan saat menjalankan tanggung jawabnya.
- Celang Lan Cale , mempunyai kesadaran pribadi selain memiliki pemikiran yang cerdas dan kemampuan bertindak dengan sigap saat menjalankan tanggung jawab, tanpa merasa terburu-buru
- Rumaksa Guru , berperilaku dan bertindak layaknya seorang guru
- Sathya Bakti Ikang Widhi , tetap setia melayani Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Menjalankan kewajiban dengan tulus serta ikhlas.
- Krama Desa Adat , wajib berasal dari Krama Desa Adat dengan memiliki kestabilan jiwa.
MUHAMMAD RIFAN PRIANTO
Comments
Post a Comment